• Tentang Kami
  • Manajemen dan Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kontak
Senin, 1 Juni, 2026
  • Login
Berita Utama Sultra
  • Home
  • News
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Kendari
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Opini
  • Ragam
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Kendari
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Opini
  • Ragam
No Result
View All Result
Berita Utama Sultra
No Result
View All Result
Home Opini

Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Redaksi by Redaksi
Mei 15, 2026
in Opini
Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Oleh: Ridaya Laodengkowe, anak Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, mukim di Jakarta

Beberapa waktu lalu, di sela-sela berselancar di dunia maya, saya tertegun saat menelusuri riwayat hidup Raden Mas Soerjopranoto. Sosok pahlawan nasional berjuluk “Raja Mogok” ini adalah kakak kandung Ki Hadjar Dewantara, sang bapak pendidikan kita. Keduanya merupakan putra-putra terbaik dari trah Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta.

Rasa penasaran membawa jemari saya melacak silsilah keturunannya saat ini. Hasilnya menarik: tidak banyak dari anak-cucu beliau yang menghiasi panggung politik praktis atau industri hiburan nasional. Sebagian besar memilih jalan sunyi di ranah profesional mandiri—mulai dari praktisi hukum hingga wirausaha.

Namun, ada satu paradoks visual yang memantik pemikiran saya. Dari generasi cicit hingga canggah (generasi kelima), nama-nama mereka kembali menegaskan gelar kebangsawanan: Raden Mas (RM).

Di era modern yang mengagungkan meritocracy (sistem berbasis kapasitas individu) dan egalitarianism, mengapa simbol masa lalu ini tetap dirawat? Mengapa mereka sengaja mencantumkannya, padahal mereka hidup dari keringat profesi swasta, bukan dari privilese istana?

Awalnya, benak kita mungkin tergoda untuk menuduhnya sebagai residu feodalisme atau sekadar ekspresi snobbery (keangkuhan sosial). Namun, dalam kacamata sosiologi budaya, fenomena ini melampaui urusan pamer kasta.

Gelar adat di era modern telah mengalami functional transformation (transformasi fungsional). Ia tidak lagi berfungsi sebagai instrumen eksklusi sosial, melainkan sebagai cultural anchor—jangkar budaya yang mengikat individu pada akar sejarahnya.

Dalam tradisi Jawa, merawat silsilah ini adalah upaya sakral agar keluarga tidak mengalami kepaten obor (matinya obor pemandu asal-usul). Gelar RM atau R bukan lagi takhta, melainkan sebuah amanah moral: sebuah beban perilaku (noblesse oblige) yang menuntut sang pemilik nama menjaga etika dan kehormatan leluhurnya di ruang publik.

Refleksi ini terasa sangat personal bagi saya. Sebagai seorang berdarah Muna, Sulawesi Tenggara, lahir dan besar di Banggai. Sulawesi Tengah, yang dahulu sempat mengenyam bangku kuliah di Yogyakarta dan kini menetap di Jakarta, saya menghadapi dialektika serupa.

Namun, alih-alih meletakkannya di depan nama seperti pakem tradisional, saya memilih meneruskan kekeliruan guru SD saya yang menyematkan gelar “Laode” di belakang nama saya. Bahkan, untuk anak-anak saya sengaja melompati pakem kaku tersebut dengan langsung menyambungkannya pada nama kedua keluarga yang kebetulan diawali dengan huruf “ng”. Alhasil, secara visual dan auditori, nama tersebut melebur seolah-olah menjadi satu kesatuan nama keluarga yang mengalir tanpa sekat. Walaupun keputusan ini berbeda dengan saudara-saudara saya, identitas nama keluarga ini akan tetap menjadi penanda sebagian akar budaya mereka.

Di tanah perantauan seperti Jakarta, di mana semua orang berkompetisi dalam rimba kapitalisme, dan modernisme, gelar yang diselipkan di belakang nama jelas tidak bisa digunakan untuk membayar tenggat kontrakan atau menaikkan jabatan korporat. Dunia profesional hanya peduli pada output kinerja. Terlebih, garis karir saya pun melenceng dari narasi arus utama komunal di kampung halaman, di mana berkarya di pemerintahan (menjadi PNS) atau mengabdi di universitas (menjadi akademisi) masih menjadi profesi idaman nomor satu bagi sebagian besar rumpun keluarga. Lantas, untuk apa saya mempertahankan modifikasi identitas kultural ini di belantara Jakarta?

Bagi saya, struktur nama ini adalah sebuah lieu de mémoire—sebuah konsep dari sejarawan Prancis, Pierre Nora, yang berarti “ruang memori”. Ketika anak-cucu saya lahir dan tumbuh besar di pengasingan budaya urban Jakarta, nama Laode dan Waode yang menyatu dalam nama keluarga akan berfungsi sebagai navigasi geografis dan genetika sosial. Gelar itu menjadi penanda tak terhapus bahwa di dalam darah mereka mengalir riwayat Sarano Wuna (‘Kerajaan Muna’) dan tautannya dengan Kesultanan Buton. Ia menjadi perekat kekerabatan (trah) agar generasi mendatang tidak linglung dan kehilangan kompas tentang dari mana leluhur mereka berasal.

Bahkan, sakralnya identitas ini akan termaterialisasi nyata saat memasuki urusan pra-pernikahan anak-anak saya dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. Sebagai orang tua yang membesarkan anak di perantauan, saya sadar tantangan kultural ini akan tiba: bagaimana tata cara adat Boka nanti dinegosiasikan? Nilai pokok adat dalam tradisi Muna (dan Buton) ini sering salah dikira khalayak luar sebagai transaksi materi atau mas kawin, padahal secara syariat Islam, mahar tetap berdiri sendiri. Pembicaraan Boka pada hakikatnya adalah the art of negotiation antar-keluarga—sebuah simulasi komunikasi budaya untuk menguji keseriusan pihak lelaki, sekaligus bentuk penghormatan tertinggi terhadap pengasuhan orang tua sang perempuan, melampaui batas geografis perantauan kami.

Di titik ini, gelar adat bertransformasi menjadi semacam “pajak kebudayaan”. Sebuah harga yang dibayar dengan penuh rasa bangga demi merawat urf (adat kebiasaan yang baik dalam tradisi hukum Islam) yang tidak bertentangan dengan agama.

Menggunakan gelar kebangsawanan di abad ke-21—baik di depan maupun hasil modifikasi kreatif di belakang nama—bukanlah deklarasi bahwa kita lebih mulia dari manusia lain. Di era modern, gelar-gelar ini adalah warisan intangible (tidak berwujud). Ia adalah komitmen eksistensial untuk menolak menjadi generasi yang amnesia sejarah. Kita boleh melangkah sejauh mungkin di panggung dunia, namun nama di KTP kita akan selalu berbisik lembut, mengingatkan rumah tempat kita harus pulang.***

Previous Post

Puskom “Geruduk” Kemenag RI, Desak Izin IAI Rawa Aopa Dievaluasi: Ada Aroma Suap dan Pembiaran Kekerasan Seksual

Next Post

Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Redaksi

Redaksi

Berita Terkait

Membuka Sumbatan Pendidikan Sultra

Membuka Sumbatan Pendidikan Sultra

April 29, 2026
Paradoks Investasi Dan Kemiskinan di Sulawesi Tenggara: Ketika Pertumbuhan Tak Menetes Ke Bawah

Paradoks Investasi Dan Kemiskinan di Sulawesi Tenggara: Ketika Pertumbuhan Tak Menetes Ke Bawah

November 27, 2025
Next Post
Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Mei 15, 2026
Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Mei 22, 2026
Paradoks Investasi Dan Kemiskinan di Sulawesi Tenggara: Ketika Pertumbuhan Tak Menetes Ke Bawah

Paradoks Investasi Dan Kemiskinan di Sulawesi Tenggara: Ketika Pertumbuhan Tak Menetes Ke Bawah

November 27, 2025
IAI Rawa Aopa Bergolak: Kuasa Hukum Ungkap Kronologi Dugaan Pelecehan, Ajak Korban Lain Bersuara

IAI Rawa Aopa Bergolak: Kuasa Hukum Ungkap Kronologi Dugaan Pelecehan, Ajak Korban Lain Bersuara

April 16, 2026
Lebih dari Sekadar Orasi: KSBSI Sultra Sulap May Day 2026 Jadi Pesta Rakyat dan Ruang Advokasi

Lebih dari Sekadar Orasi: KSBSI Sultra Sulap May Day 2026 Jadi Pesta Rakyat dan Ruang Advokasi

Maret 18, 2026
Puskom “Geruduk” Kemenag RI, Desak Izin IAI Rawa Aopa Dievaluasi: Ada Aroma Suap dan Pembiaran Kekerasan Seksual

Puskom “Geruduk” Kemenag RI, Desak Izin IAI Rawa Aopa Dievaluasi: Ada Aroma Suap dan Pembiaran Kekerasan Seksual

Mei 14, 2026
Satu Tekad Menuju Sejahtera: KSBSI Sultra Perkuat Sinergi LKS Tripartit di Momen May Day 2026

Satu Tekad Menuju Sejahtera: KSBSI Sultra Perkuat Sinergi LKS Tripartit di Momen May Day 2026

Mei 1, 2026
Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Mei 22, 2026
Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Mei 19, 2026
Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Menjaga “Lampu” Sejarah: Refleksi Gelar Bangsawan di Era Meritokrasi

Mei 15, 2026
Puskom “Geruduk” Kemenag RI, Desak Izin IAI Rawa Aopa Dievaluasi: Ada Aroma Suap dan Pembiaran Kekerasan Seksual

Puskom “Geruduk” Kemenag RI, Desak Izin IAI Rawa Aopa Dievaluasi: Ada Aroma Suap dan Pembiaran Kekerasan Seksual

Mei 14, 2026
Gubernur Sultra Absen di Mayday 2026, KSBSI: Kontras dengan Semangat Presiden Prabowo

Gubernur Sultra Absen di Mayday 2026, KSBSI: Kontras dengan Semangat Presiden Prabowo

Mei 1, 2026
Satu Tekad Menuju Sejahtera: KSBSI Sultra Perkuat Sinergi LKS Tripartit di Momen May Day 2026

Satu Tekad Menuju Sejahtera: KSBSI Sultra Perkuat Sinergi LKS Tripartit di Momen May Day 2026

Mei 1, 2026
Babak Baru Dugaan Pelecehan di IAI Rawa Opa: Polda Sultra Resmi Ambil Alih Perkara

Babak Baru Dugaan Pelecehan di IAI Rawa Opa: Polda Sultra Resmi Ambil Alih Perkara

April 30, 2026
Berita Utama Sultra

Penerbit PT Anoa Gema Nusantara
Pondok Pinang, Blok F9 Punggolaka, Kendari
Sulawesi Tenggara INDONESIA
Email: beritautamasultra@gmail.com

Follow Us

About

  • Tentang Kami
  • Manajemen dan Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kontak

Berita Terkini

Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Ada Dugaan Jual Beli Ijazah & Setor Rp55 Juta Per Asesor, IAI Rawa Aopa Resmi Dilaporkan ke KPK RI

Mei 22, 2026
Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Coreng Dunia Pendidikan, Dua Oknum Guru PPPK SMA di Konawe Digerebek Istri Sah, Diduga Zina di Rumah Mertua

Mei 19, 2026
  • Tentang Kami
  • Manajemen dan Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kontak

Copyright © 2025 PT Anoa Gema Nusantara All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Kendari
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Opini
  • Ragam

Copyright © 2025 PT Anoa Gema Nusantara All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In