Kendari, Beritautamasultra.com – Dunia pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara kembali diguncang kabar miring. Pelaksanaan wisuda Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa yang digelar megah di Hotel Claro Kota Kendari pada Rabu (10/6/2026), justru menyisakan aroma skandal akademik yang menyengat.
Beberapa peserta wisuda diduga kuat merupakan “mahasiswa siluman” yang tidak pernah menginjakkan kaki di ruang kuliah, namun secara ajaib berhak menyandang gelar sarjana.
Informasi yang dihimpun tim redaksi mengungkapkan pola culas yang diduga terjadi di internal kampus. Tak tanggung-tanggung, dari beberapa wisudawan bermasalah tersebut, terdeteksi ada sedikitnya 6 mahasiswa yang diduga kuat menjadi “mahasiswa siluman” jalur premium. Mereka disinyalir membayar upeti hingga puluhan juta rupiah agar proses administrasi mereka mulus dari awal masuk hingga karpet merah wisuda.
Menurut sumber di lingkaran masyarakat dan pemerhati pendidikan, para mahasiswa instan ini tidak pernah melewati tahapan akademik yang sah. Mereka absen dari daftar hadir kelas, tidak pernah berkeringat mengikuti ujian semester, bahkan melompati kewajiban menyusun skripsi yang menjadi syarat mutlak kelulusan.
Dugaan komersialisasi pendidikan ini dinilai telah melacurkan integritas akademik. Jika terbukti benar, beberapa ijazah yang diterbitkan IAI Rawa Aopa pada prosesi wisuda tersebut terancam cacat hukum dan tidak sah secara administrasi negara.
“Kami meminta Kemendiktisaintek tidak hanya melihat aspek seremonial wisuda, tetapi memeriksa seluruh rekam jejak akademik para peserta wisuda,” tegas salah seorang akademisi Sultra yang getol mengawal isu korupsi pendidikan, Rabu (10/6/2026).
Ia mendesak agar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) segera turun tangan melakukan audit forensik digital terhadap data kampus. Pemeriksaan harus mencakup sinkronisasi antara data riwayat presensi, Kartu Rencana Studi (KRS), Kartu Hasil Studi (KHS), dengan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) serta pangkalan data EMIS Kementerian Agama.
Sorotan tajam terhadap IAI Rawa Aopa seolah membuka kotak pandora bobroknya manajemen internal mereka. Sebelum skandal wisuda siluman ini mencuat, kampus ini sudah lebih dulu didera berbagai polemik yang meresahkan publik.
Berdasarkan catatan redaksi, IAI Rawa Aopa kerap disorot mulai dari karut-marutnya tata kelola birokrasi, minimnya perlindungan terhadap korban kekerasan seksual di lingkungan kampus, hingga legalitas beberapa program studi (prodi) yang dipertanyakan.
“Ijazah bukan sekadar lembar kertas. Ijazah adalah produk akademik yang lahir dari proses pendidikan yang sah. Setiap dugaan penyimpangan harus diperiksa secara transparan demi menjaga marwah pendidikan tinggi Indonesia,” tambah sang akademisi.
Hingga berita ini ditayangkan, redaksi Beritautamasultra.com masih terus berupaya menghubungi pihak Rektorat IAI Rawa Aopa serta perwakilan Kemendiktisaintek untuk mendapatkan klarifikasi dan ruang konfirmasi lebih lanjut terkait dugaan skandal besar ini.
Penulis: Artha Kusuma












