BeritaUtamaSultra.com — Maraknya aksi kekerasan yang kerap mewarnai Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Kendari akhirnya memicu gelombang perlawanan dari kalangan aktivis. Mengatasnamakan aksi keprihatinan sekaligus bentuk kritik pedas, Konsorsium Aktivis Revolusioner Sulawesi Tenggara (KARST) secara resmi meluncurkan aksi “Open Donasi Rp170 Ribu” untuk para pengusaha hiburan malam pada Selasa, 28 Juli 2026.
Aksi penggalangan dana dengan nominal unik ini diprakarsai oleh 14 lembaga progresif di bawah naungan KARST di antaranya SAC, AMAN SULTRA, KORAN SULTRA, AMARA SULTRA, GEMPUR SULTRA, MAP HUKUM SULTRA, AWF, FORMALISH, JANGKAR SULTRA, SIMPUL SULTRA, AMPLK SULTRA, JGN, PM PALI SULTRA, hingga AMPK SULTRA. Nominal Rp170 ribu tersebut dihadirkan sebagai bentuk satire atau sindiran menohok atas kegagalan total manajemen THM dalam menjamin keselamatan pengunjung.
Bukan tanpa alasan, kemarahan publik memuncak lantaran aparat pengamanan internal (security) yang seharusnya melindungi konsumen, justru kerap menjadi aktor utama tindakan kekerasan brutal.
Sederet catatan kelam memperlihatkan ruang hiburan malam berubah menjadi arena pengeroyokan. Sebut saja kasus brutalisme di THM Spazio, bentrok fisik di Liquid/Karaoke Lyrics, hingga aksi penganiayaan bersama di THM Exodus dan Tokyo. Rentetan insiden tersebut dinilai menjadi bukti nyata lemahnya kendali operasional serta krisis profesionalisme pada sistem pengamanan THM di Kendari.
Penanggung Jawab KARST, Ikhram, menegaskan bahwa aksi penggalangan ini merupakan tamparan keras bagi para pemilik modal yang dinilai miskin komitmen terhadap standar keselamatan.
“Donasi Rp170 ribu dari 14 lembaga di bawah naungan KARST ini adalah satire murni. Kami menggalang koin demi koin ini sebagai modal tambahan pengamanan kota, karena pemilik THM terkesan miskin modal untuk menyekolahkan dan melatih security-nya agar paham cara mengamankan situasi tanpa harus ikut memukuli orang,” cetus Ikhram, Selasa (28/7/2026).
Lebih jauh, KARST menyoroti ketimpangan moral para pengusaha kaya raya yang dinilai bungkam dan lepas tangan saat tumpahan darah terjadi di area bisnis mereka. Padahal, perputaran uang di industri malam Kendari terbilang sangat besar.
“Security digaji bukan untuk menjadi preman berseragam yang melegitimasi pengeroyokan. Sangat memalukan jika pengusaha kaya raya terkesan membisu saat kekerasan terjadi di depan mata. Jangan hanya mau memanen keuntungan dari masyarakat, tapi giliran darah warga tumpah, manajemen berlagak tidak tahu apa-apa,” tegas Ikhram menohok.
Menyikapi kekacauan yang kian berlarut, koalisi 14 lembaga ini mendesak Pemerintah Kota Kendari dan aparat Kepolisian untuk bertindak radikal. Jika manajemen THM tak mampu membenahi sistem pengamanannya dan terus menjadi sarang kriminalitas, KARST menuntut seluruh operasional THM di Kota Kendari ditutup secara permanen.
Uang hasil penggalangan donasi sebesar Rp170 ribu tersebut rencananya akan diserahkan secara simbolis kepada pihak manajemen.
“Kami ingin menunjukkan, dengan tambahan modal Rp170 ribu dari koalisi rakyat ini, apakah pengusaha THM bisa sadar diri, ataukah memang seluruh THM di kota ini sudah layak digulung dan ditutup permanen karena hanya menjadi ladang kekerasan,” pungkas Ikhram.
Penulis: Artha Kusuma













