BeritaUtamaSultra.com — Peringatan Milad ke-14 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Milad ke-10 Korps HMI-Wati (KOHATI) Komisariat Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) menjadi panggung evaluasi krusial. Di balik deretan prestasi mencetak figur kepemimpinan mahasiswa, organisasi hijau-hitam ini menyimpan benalu internal: kemacetan regenerasi.
Ketua Umum HMI Komisariat UMK, Juraidin, secara terbuka mengakui adanya pelanggaran konstitusi terkait masa jabatan kepengurusannya yang membengkak hingga melebihi tiga tahun. Padahal, aturan main organisasi secara tegas membatasi masa bakti pengurus hanya satu tahun.
“Ini menjadi dosa kami sebagai pengurus HMI. Dalam konstitusi, kepengurusan hanya berjalan satu tahun dengan masa transisi tertentu, tetapi kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Insyaallah akan kami perbaiki pada kepengurusan selanjutnya,” ujar Juraidin dalam momentum refleksi milad tersebut.
Juraidin menegaskan, HMI pada hakikatnya dibentuk sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter dan kepemimpinan kader secara berproses, bukan sekadar wadah berkumpulnya mahasiswa.
Secara rekam jejak, proses kaderisasi di Komisariat UMK terbukti moncer. Dalam kurun 14 tahun berdiri, komisariat ini konsisten menyuplai stok pemimpin di kampus maupun level daerah.
Jebolan UMK tercatat berhasil menduduki posisi strategis, mulai dari Presiden Mahasiswa, Ketua BEM, hingga puncak kepemimpinan sebagai Ketua Umum HMI Cabang Kendari.
“Ada yang menjadi Presiden Mahasiswa, Ketua BEM, dan memimpin organisasi lainnya. Itu menjadi bukti bahwa Komisariat UMK berhasil menjalankan proses kaderisasi,” tegasnya.
Kritik dan apresiasi senada ditiupkan oleh Ketua Umum HMI Cabang Kendari, Yusril. Sebagai alumni yang lahir dari rahim HMI Komisariat UMK, Yusril mengakui kapasitas dan progresivitas kader UMK di panggung gerakan mahasiswa.
Namun, ia juga menyoroti persepsi minor yang selama ini berhembus mengenai minimnya perhatian HMI Cabang Kendari terhadap dinamika di level komisariat.
“Sebagai anak kandung Komisariat UMK, saya berjanji akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan Komisariat UMK,” ujar Yusril meluruskan catatan kritis tersebut.
Di tempat yang sama, perayaan Milad ke-10 KOHATI Komisariat UMK dimanfaatkan untuk menggembleng kembali peran strategis kader perempuan HMI. Agenda ini dihadiri jajaran pengurus HMI Cabang Kendari, Presidium KOHATI, jajaran alumni, hingga kader aktif.
Momentum ganda ini tidak berhenti pada ceremonial belaka. Milad XIV HMI dan X KOHATI UMK menjadi ajang pembuktian bahwa komitmen pembinaan intelektual mahasiswa Islam di Kota Kendari harus sejalan dengan penegakan disiplin organisasi dan regenerasi kepemimpinan yang sehat.
Penulis: Artha Kusuma













