Tentu sudah ada beberapa nama yang disebut untuk bertarung di pentas pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo. Siapa saja yang disebut? Disebut dan masuk akal? Masuk akal dan bisa merebut suara Menteri? Bisa merebut suara Menteri dan menang?
Yang pertama disebut adalah nama Prof. Takdir Saili. Dalam Pemilihan Rektor yang baru lalu, Prof Takdir berhasil menyapu bersih 26 suara Menteri. Pak Menteri menumpahkan seluruh suaranya kepada Prof. Takdir. Menang? Ndak. Kalah. Perolehan suara Prof Takdir di putaran pertama sebanyak 4 suara, di putaran kedua ternyata tak mendapatkan tambahan dukungan dari suara senat selain suara Menteri. Total suara Prof Takdir 30, selisih satu suara dengan perolehan suara almarhum Prof. Armid sebanyak 31. Nah, dalam Pilrek UHO sepeninggal almarhum Prof. Armid ini apakah suara Menteri akan tetap ditumpahkan ke Prof Takdir? Bisa ya, bisa tidak. Apakah Menteri mau “buru” kekalahan? Atau sebaliknya: Kapok? Nanti akan kelihatan. Itu satu.
Dua, nama lain yang disebut untuk kembali tampil di pentas Pilrek UHO setelah wafatnya Rektor yang baru dilantik adalah Prof Ruslin. Nama ini dalam Pilrek baru lalu adalah peraih suara terbanyak kedua di putaran pertama, dan peraih suara terbanyak ketiga di putaran kedua. Suara Prof Ruslin nyaris tidak berubah di putaran satu maupun dua. 12 suara di putaran pertama, 11 suara di putaran kedua. Artinya, jika saat itu suara Menteri sebanyak 26 suara ditumpahkan ke Prof Ruslin, maka kemenangan mutlak.
Lalu? Ada apa Prof Ruslin Kembali disebut untuk bersaing kembali di Pilrek sementara sudah tahu dirinya tak didukung Menteri?. Bodohkah Prof Ruslin? Bejuang buta-butakah Prof Ruslin? Ndak mungkin. Masa profesor, tak berhitung dalam perjuangan? Pastilah punya hitungan hitungan. Ada strategi yang dimainkan. Majunya Prof Ruslin justeru menjadi ancaman hebat bagi pesaing lain karena pengalaman kelemahan Pilrek barusan tak bakal terulang. Majunya Prof Ruslin bisa diartikan sebagai tanda bahwa dukungan Jakarta sudah berpindah dari Kapontori ke Latugho, kampung asal Ruslin.
Selain Prof Takdir dan Prof Ruslin, kandidat lain yang disebut adalah arah telunjuk mantan Rektor UHO, Prof Muhammad Zamrun Firihu. Kenapa? Beliau masih punya kekuatan, masih punya orang-orang yang duduk di Senat, apalagi, Zamrun dianggap sebagai King Maker dari kemanangan Almarhum Prof Armid, yang tentu, dalam komposisi Senat terdapat orang-orang yang tunduk patuh kepada Zamrun. Karena itulah, tengah ditunggu siapa yang akan didorong dan direstui Prof Zamrun. Untuk ini, ada dua nama yang ditengarai yakni Prof Ida Usman dan Prof La Ode Santiaji Bande. Kedua figur ini dianggap sebagai loyalis Zamrun.
Agak sulit dilakukan rekonsiliasi mengingat warna dan karakter pemilihan pimpinan di UHO dalam tiga episode belakangan. Lihatlah awal tampilnya Prof. Zamrun yang didukung full oleh Prof Usman Rianse yang dalam perjalannya tak cukup setahun sudah retak remuk berkeping keping. Masing-masing punya sikap dan pendirian yang teramat tegas. Sikap dan pendirian yang tegas itu, kembali dipertontonkan pada Pilrek baru baru. Menteri Pendidikan Tinggi, Menteri yang menaungi perguruan tinggi, Menteri yang punya otoritas suara sebanyak 35 persen atau setara dengan 26 suara, tumbang tanpa tedeng aling-aling. Ini artinya, kekalahan menteri ini memang bukan berarti dipermalukan karena bukan persoalan malu atau tidak malu, tapi, sikp dan pendirian yang tegaslah yang luar biasa. Karena itu, tak ada abu-abu di UHO, yang ada adalah hitam putih. Jadi, kesimpulannya bahwa, jangan berharap rekonsiliasi dalam penyatuan kekuatan yang semu. Simpul lain, disebutnya nama Ruslin patut dianalisa karena dua kemungkinan yang mentrigernya yakni nekad atau tambah kuat. Tapi, adakah profesor yang bertindak nekad? Ndak ada. Ya, berarti ada kekuatan baru. Ini kalau Profesor Ruslin benar-benar maju. Yaah, nanti dilihat.(nebansi@gmail.com)












