Kendari, Berita Utama – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memastikan kesiapan stok uang rupiah layak edar (URLE) sebesar Rp1,2 triliun untuk memenuhi proyeksi peningkatan kebutuhan uang tunai masyarakat selama momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 H / 2026.
Penyediaan likuiditas ini dilakukan melalui program strategis tahunan bertajuk SERAMBI 2026 (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri). Program ini mencakup berbagai kanal layanan, mulai dari kas keliling, loket penukaran perbankan, hingga optimalisasi layanan digital melalui aplikasi PINTAR.
Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, dalam agenda “Bincang Bareng Media” pada Senin (9/2/2026), menyatakan bahwa langkah ini merupakan komitmen bank sentral dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran nasional di tengah lonjakan konsumsi rumah tangga.
“Kami berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat di Sulawesi Tenggara dapat mengakses uang rupiah dengan mudah, aman, dan tertib. Langkah ini krusial untuk menjaga kenyamanan transaksi selama hari besar keagamaan,” ujar Edwin.
Peningkatan Batas Penukaran
Salah satu poin penting dalam kebijakan tahun ini adalah kenaikan batas maksimal penukaran uang per individu. Pada program SERAMBI 2026, BI menetapkan batas plafon sebesar Rp5,3 juta per orang, atau mengalami kenaikan signifikan sebesar 23,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang dipatok pada angka Rp4,3 juta. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas tren peningkatan kebutuhan uang tunai di masyarakat.
Kondisi Ekonomi dan Pengendalian Inflasi
Di sisi lain, Edwin juga memaparkan performa ekonomi Sultra yang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, ekonomi Sultra tumbuh solid sebesar 5,79% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11% (yoy). Sektor Jasa Keuangan menjadi kontributor pertumbuhan tertinggi dengan capaian 17,27% (yoy), didorong oleh ekspansi kredit dan digitalisasi sistem pembayaran.
Terkait tantangan inflasi, BI Sultra mencatat inflasi sebesar 0,69% (mtm) pada Januari 2026, yang dipicu oleh kenaikan harga emas global serta fluktuasi harga komoditas pangan, khususnya aneka jenis ikan akibat faktor cuaca.
Guna mengantisipasi tekanan inflasi menjelang lebaran, BI Sultra memperkuat sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kolaborasi ini diwujudkan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di delapan kabupaten/kota serta akselerasi pemanfaatan Kios Pangan untuk menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok.
Akselerasi Transaksi Digital
Selain memastikan ketersediaan uang tunai, BI Sultra terus mendorong digitalisasi ekonomi melalui penggunaan QRIS. Hingga Triwulan IV-2025, jumlah pengguna QRIS di Sultra telah mencapai 303.254 pengguna dengan volume transaksi yang melonjak drastis hingga 184,61% (yoy). Hal ini mencerminkan pergeseran pola transaksi masyarakat Sultra yang semakin modern dan efisien.
Penulis: Artha Kusuma












